Langsung ke konten utama

Unggulan

Sedih yang Tidak Menetes Jadi Air Mata

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Ada hari-hari tertentu yang sulit dijelaskan. Hari di mana aku merasa sangat sedih… tapi tidak bisa menangis. Bukan karena tidak ingin. Tapi memang air matanya tidak keluar. Sedih yang Tidak Jelas Asalnya Aku pernah duduk diam dan bertanya ke diri sendiri, “Kenapa aku sedih?” Tapi aku tidak menemukan jawaban yang pasti. Mungkin karena banyak hal. Mungkin karena perasaan yang menumpuk. Mungkin karena lelah yang tidak terlihat. Yang aku tahu… orang-orang di sekitarku tidak menyakitiku. Suamiku baik. Keluargaku baik. Sahabat-sahabatku juga baik. Jadi aku sadar… ini bukan tentang mereka. Ini tentang sesuatu yang ada di dalam diriku sendiri. Perasaan yang Tidak Bisa Diungkapkan Ada bagian dari hati yang rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana jika ingin bercerita. Dan mungkin… aku juga takut. Takut kalau aku mengungkapkan semuanya, aku justru akan terluka leb...

“Belajar Bahagia dari Masakan yang Nggak Sempurna”

Assalamualaikum ✨️

Sejak tinggal di Jerman, aku merasa harus belajar banyak hal baru, salah satunya berani masak makanan sendiri. Dulu di Indonesia, aku terbiasa banget tinggal pesan makanan atau gampang banget cari jajanan di luar. Tapi di sini, kalau lagi kangen makanan Indonesia, pilihannya cuma dua: beli yang sudah jadi dengan harga lumayan mahal, atau coba bikin sendiri di rumah. Dan akhirnya aku memilih opsi kedua — masak sendiri, walaupun hasilnya jauh dari kata sempurna.

Contohnya kemarin aku bikin Batagor. Aku coba bikin kulitnya sendiri, karena jelas di sini nggak ada yang jual kulit batagor kayak di Indonesia. Pas jadi, bentuknya tuh aneh, nggak rapi, agak tebal di sana-sini. Tapi ya, Alhamdulillah, yang penting jadi, dan rasanya cukup mengobati rindu. Aku jadi sadar, ternyata masak itu nggak selalu soal cantik di luar, tapi soal keberanian untuk mencoba.

Selain batagor, aku juga pernah bikin sate ayam bumbu kacang. Bedanya, aku nggak bakar di arang, tapi pakai oven. Jujur aja, rasanya tetap enak dan bikin puas. Bahkan aku juga berhasil bikin sate taichan sendiri. Walaupun mungkin bentuk dan cara penyajiannya nggak sama dengan yang dijual di Jakarta atau Bandung, tapi buatku itu sudah cukup bikin bahagia. Karena intinya, aku bisa makan sesuatu yang ngingetin aku sama rumah.

Pernah juga aku coba bikin dimsum ayam. Nah, ini lebih kocak lagi. Aku nekat bikin kulitnya sendiri, dan ternyata kulitnya jadi tebal banget. Jadinya bentuknya agak “kasar” gitu. Tapi lagi-lagi aku belajar, nggak apa-apa. Yang penting aku berani mencoba, dan rasanya tetap bikin senyum sendiri walaupun belum sempurna.

Selama tinggal di sini, aku jadi sering eksperimen masakan Indonesia pakai bahan seadanya. Dan Alhamdulillah, suamiku bukan tipe picky eater. Dia selalu mau coba apa yang aku masak, meskipun aku nggak pernah pakai bawang karena dia nggak suka. Aku sih kadang-kadang pakai bawang goreng instan yang dijual di toplesan, tapi jarang banget. Suamiku juga selalu support dan suka makan masakan yang aku buat, meskipun jauh dari versi aslinya. Itu bikin aku makin semangat.

Bahan-bahan di Jerman kadang tricky. Misalnya, aku sering nemu kerupuk di Lidl, atau kadang ada juga di Rewe. Tapi kalau ke Norma, biasanya cuma ada bawang goreng. Rewe menurutku lebih lengkap, karena dia kayak supermarket yang lumayan global. Bahkan pernah aku nemu mochi Jepang di sana. Aku juga pernah beli matcha bubuk di DM, walaupun lumayan mahal, tapi sesekali nggak apa-apa.

Soal minuman, aku juga lagi belajar lebih sehat. Aku sebenarnya pecinta kopi sejak kecil, tapi sekarang aku lagi coba berhenti. Udah tiga hari ini aku nggak minum kopi, dan aku ganti dengan coklat bubuk. Walaupun coklat juga masih ada kafeinnya, tapi menurutku lebih baik daripada kopi. Kadang aku campur sama susu, atau ganti dengan teh hangat. Apalagi sekarang udah musim gugur di Jerman, rasanya pas banget minum sesuatu yang hangat.

Kadang aku lupa, karena kebiasaan waktu musim panas kemarin aku sering bikin es kopi susu semalaman di kulkas. Jadi kebawa sampai sekarang, padahal udara udah mulai dingin. Tapi nggak apa-apa, pelan-pelan aku mulai belajar menyesuaikan. Sekarang aku lebih sering bikin coklat hangat atau teh manis hangat, dan itu cukup bikin nyaman.

Dari semua pengalaman ini, aku belajar satu hal penting: berani mencoba lebih berharga daripada hasil yang sempurna. Bentuk batagor yang aneh, sate yang nggak dibakar, dimsum dengan kulit tebal — semuanya justru jadi cerita yang bikin aku bersyukur. Karena di balik itu semua, aku bisa makan apa yang aku rindukan, aku bisa merasa lebih dekat dengan rumah, dan aku bisa berbagi kebahagiaan sederhana dengan suamiku.

Mungkin orang lain akan bilang masakanku kurang cantik, kurang mirip, atau belum sempurna. Tapi buatku, setiap percobaan itu punya rasa tersendiri. Rasa bangga karena aku berhasil bikin sesuatu dari nol, rasa puas karena bisa menikmati makanan Indonesia di tanah rantau, dan rasa syukur karena suamiku selalu menghargai apa yang aku buat.

Jadi, kalau kamu juga lagi di posisi kayak aku — tinggal jauh dari rumah, kangen makanan tertentu, tapi ragu buat coba masak sendiri — pesan aku cuma satu: coba aja dulu. Jangan takut gagal, jangan takut hasilnya aneh. Karena di setiap masakan yang kamu buat sendiri, ada cerita, ada usaha, dan ada cinta.

Alhamdulillah, aku belajar banyak dari dapur kecil di Jerman ini. Dan semoga aku makin berani untuk terus mencoba, tanpa harus nunggu sempurna dulu. Karena ternyata, rasa syukur itu muncul bukan ketika semuanya mulus, tapi justru ketika kita bisa menikmati hal kecil dengan hati yang ikhlas.

Wassalamualaikum ✨️

Komentar