Unggulan

1 Tahun 3 Bulan di Jerman, Banyak yang Allah Ajarkan (Catatan Ramadhan)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…✨️

Sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis di blog ini. Sebenarnya tulisan ini sudah ingin aku buat sejak beberapa waktu lalu, tapi baru sekarang aku sempat menyusunnya kembali.

Sekarang Ramadhan sudah berjalan 18 hari dan sebentar lagi memasuki hari ke-19. Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Sebelum Ramadhan benar-benar menuju akhir, aku ingin menulis sedikit catatan perjalanan hidupku selama satu tahun terakhir ini.

Alhamdulillah, sejak Desember 2024 sampai Desember 2025, aku sudah melewati satu tahun tinggal di Jerman. Banyak hal yang berubah dalam hidupku selama waktu itu. Bukan hanya lingkungan, tapi juga cara pandangku tentang kehidupan, tentang privasi, dan tentang bagaimana aku ingin menjalani hari-hariku.

Di kesempatan ini juga aku ingin meminta maaf jika selama ini pernah ada tulisan, ucapan, atau sikapku yang kurang berkenan di hati siapa pun. Tahun 2025 benar-benar menjadi tahun introspeksi untukku. Tahun di mana aku banyak belajar untuk lebih diam, lebih menjaga diri, dan lebih selektif dalam membagikan kehidupan.


---

Dari Ingin Terlihat, Menjadi Ingin Tenang

Waktu pertama kali datang ke Jerman, jujur saja aku masih punya keinginan untuk sering berbagi di media sosial. Rasanya ingin menunjukkan kehidupan baru, ingin aktif, bahkan mungkin ada sedikit keinginan untuk dikenal.

Tapi seiring waktu berjalan, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana namun sangat berarti:
hidup yang terlalu terbuka sering kali justru melelahkan.

Aku mulai merasakan bahwa privasi membawa ketenangan. Tidak semua hal harus dibagikan. Tidak semua kebahagiaan perlu dilihat orang lain.

Sekarang aku sudah hampir enam bulan off dari TikTok. Twitter juga sudah lama sekali tidak aku buka karena rasanya terlalu ramai dengan opini. Facebook pun sudah berbulan-bulan tidak aku sentuh.

Media sosial yang masih aku gunakan hanya:

WhatsApp

Instagram

YouTube


Itu pun dengan cara yang jauh lebih sederhana dibandingkan dulu.


---

Instagram yang Lebih Tenang

Belakangan ini aku kembali mengaktifkan Instagram pribadiku, tapi dengan cara yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Dulu followers-ku hampir 2000 orang. Sekarang aku mengurangi semuanya hingga tersisa sekitar 400 followers saja. Bahkan prosesnya cukup panjang karena aku benar-benar menyaring satu per satu.

Sekarang akun tersebut hanya berisi perempuan saja. Tidak ada laki-laki. Dan sebagian besar adalah orang-orang yang memang aku kenal atau yang menurutku nyaman untuk saling terhubung.

Untuk teman-teman laki-laki yang dulu mungkin pernah ada di daftar followers atau pertemanan, aku juga ingin meminta maaf jika sekarang aku membatasi hal tersebut. Bukan karena mereka melakukan kesalahan, dan juga bukan karena suamiku yang meminta.

Ini murni keputusan pribadiku sendiri.
Aku merasa hati dan pikiranku jauh lebih lega dengan batasan seperti ini.

Kadang kita baru sadar bahwa menjaga ruang pribadi itu penting setelah pernah merasa terlalu terbuka.


---

Lingkaran yang Semakin Sederhana

Hal yang sama juga aku lakukan pada kontak di ponselku.

Sekarang jumlah kontak di HP-ku benar-benar sangat sedikit, mungkin hanya sekitar 40-50 kontak saja. Aku sengaja menguranginya karena aku merasa tidak perlu terlalu banyak orang mengetahui kehidupan pribadiku.

Bukan karena tidak menghargai orang lain, tapi lebih kepada menjaga ketenangan diri.

Untuk WhatsApp sendiri aku masih menggunakannya seperti biasa. Nomornya pun masih nomor Indonesia, dan siapa saja sebenarnya masih bisa menghubungiku di sana.

Aku sebenarnya sudah dibelikan kartu SIM Jerman sejak tinggal disini, tapi sampai sekarang belum sempat mengganti nomor WhatsApp ke nomor tersebut. Mungkin nanti suatu hari akan aku ganti, tapi untuk saat ini aku masih memakai nomor yang lama.


---

Sepi, Tapi Tetap Bersyukur

Tinggal di Jerman memang terasa sepi. Tidak ada keluarga di dekatku, teman juga tidak banyak. Tapi justru di tengah kesunyian itu aku belajar banyak hal tentang kehidupan.

Alhamdulillah, selama satu tahun ini aku merasa bahagia tinggal di sini. Walaupun tentu ada fase di mana aku pernah merasa sangat sedih. Fase yang membuatku belajar lagi tentang kesabaran dan tentang bagaimana menyerahkan semuanya kepada Allah.

Setelah satu tahun itu, aku juga mendapatkan sebuah kejutan luar biasa dari Allah. Sesuatu yang sangat pribadi, yang tidak bisa aku ceritakan di sini. Tapi cukup menjadi pengingat bagiku bahwa Allah selalu punya cara untuk menghadirkan kebahagiaan di waktu yang tidak kita duga.


---

Belajar Mandiri di Negeri Orang

Selama tinggal di sini, aku juga mulai merasakan bagaimana harus melakukan banyak hal sendiri.

Aku pernah merasa tidak enak badan dan harus pergi ke dokter sendirian. Suamiku bekerja di bidang kesehatan, jadi sering kali dia tidak bisa mengantar karena harus melayani pasien.

Di Jerman, kalau sakit yang tidak darurat biasanya kita pergi ke klinik dokter (praxis), bukan langsung ke rumah sakit. Rumah sakit hanya untuk kondisi darurat.

Ada dokter yang bisa berbahasa Inggris, tapi sebagian besar tetap menggunakan bahasa Jerman. Jadi mau tidak mau aku harus berani mencoba berbicara dan memahami.

Aku juga sudah ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi. Sejak tinggal di sini aku mulai rutin melakukan perawatan itu, dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Hal-hal kecil seperti itu membuatku merasa bahwa pelan-pelan aku mulai bisa mandiri.


---

Masih Terus Belajar

Sampai sekarang aku masih terus belajar banyak hal.

Belajar bahasa Jerman.
Belajar memahami budaya yang berbeda.
Belajar mengelola rasa rindu pada keluarga di Indonesia.

Kadang terasa sulit, kadang juga terasa menyenangkan. Tapi semuanya adalah bagian dari proses yang harus aku jalani.

Satu tahun ini mengajarkan aku bahwa hidup tidak selalu harus ramai. Kadang justru dalam kesederhanaan dan kesunyian, kita bisa menemukan banyak ketenangan.

Menjelang pertengahan Ramadhan ini, aku hanya berharap semoga Allah membersihkan hati kita semua, memudahkan langkah kita, dan memberikan keberkahan dalam setiap perjalanan hidup kita.

Terima kasih untuk siapa pun yang masih membaca blog sederhana ini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar