Langsung ke konten utama

Unggulan

Berhenti Berekspektasi, Belajar Menerima Hidup Apa Adanya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang mungkin agak berbeda. Lebih jujur, lebih dalam, dan mungkin lebih sunyi. Akhir-akhir ini aku belajar satu hal yang cukup berat untuk diterima: berhenti berekspektasi bahwa hidup akan selalu terasa menyenangkan. Hidup di Jerman: Sepi yang Nyata Sudah lebih dari satu tahun aku tinggal di Jerman. Dan semakin ke sini, aku semakin sadar… aku memang tidak punya circle di sini. Tidak punya teman dekat. Tidak punya tempat bercerita secara langsung. Tidak punya kehidupan sosial seperti dulu di Indonesia. Temanku… hanya suamiku. Dan selebihnya… aku punya Allah. Awalnya terasa aneh. Bahkan kadang terasa sangat sepi. Tapi justru dari situ aku mulai melihat banyak hal dari kejauhan. Aku jadi lebih peka. Lebih bisa memperhatikan tanpa harus terlibat terlalu dalam. Belajar Menyukai Hidup yang Private Sekarang aku lebih memilih hidup yang sangat private. Bahkan Instagram pribadiku yang hanya sekitar 400 fol...

Setelah 42 Hari Off: Aku Kembali ke Instagram, Tapi dengan Hati yang Lebih Tenang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Setelah 42 hari off dari semua media sosial, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Instagram — tapi cuma itu aja.
Sekarang aku hanya pakai Instagram, YouTube, dan WhatsApp.
Bukan karena kangen scrolling atau pengen tampil lagi, tapi karena aku pengen tetap terhubung dengan teman-temanku di Indonesia, sambil tetap menjaga ketenangan hati yang sudah aku temukan selama offline.

Aku sadar, tinggal jauh dari Indonesia membuat aku butuh jembatan untuk tetap terkoneksi.
Kadang aku pengen tahu kabar teman-teman sekolahku, teman-teman lama yang dulu sering bareng, dan itu hanya bisa kulakukan lewat Instagram. Tapi bedanya sekarang, aku mengatur ulang semuanya.

Aku mulai menghapus banyak followers.
Dari yang dulu jumlahnya seribu, sekarang tinggal sekitar tujuh ratusan.
Aku sengaja bikin seimbang antara followers dan following, supaya aku tetap merasa dekat — bukan seperti orang yang punya banyak penonton tapi tidak benar-benar mengenal siapa yang melihat hidupku.
Bagiku, Instagram sekarang bukan tempat pamer atau berbagi semua hal, tapi sekadar ruang kecil untuk terhubung seperlunya.

Di WhatsApp pun aku tetap membatasi diri.
Aku jarang banget bikin story, dan kalau pun bikin, cuma hal-hal ringan seperti foto atau video keseharian.
Begitu juga di Instagram — aku nggak lagi posting hal-hal pribadi atau curhat lewat quotes panjang.
Aku nggak mau lagi menulis hal-hal yang bisa disalahartikan, atau membuat orang merasa tersindir padahal bukan maksudku.

Sekarang aku belajar untuk menyimpan hal-hal pribadi dalam hati.
Kalau aku sedih, aku cerita pada Allah.
Kalau aku bahagia, aku syukuri dalam diam.
Aku nggak mau lagi membuat hidupku jadi konsumsi publik.
Aku nggak mau lagi menjelaskan semuanya hanya karena orang lain penasaran.

Dulu aku pernah berpikir, semakin banyak yang aku bagikan, semakin orang akan mengerti aku.
Tapi ternyata, yang terjadi malah sebaliknya — semakin banyak yang tahu, semakin banyak pula penilaian yang datang.
Dan dari situ aku belajar: tidak semua hal harus diceritakan.

Untuk TikTok dan Threads, aku memutuskan tidak akan kembali.
Aku sudah hapus Threads, dan rasanya lega sekali.
Aku ingin menjaga pikiranku tetap bersih dari hal-hal yang bikin aku nggak tenang.
Aku ingin hidupku mengalir lebih sederhana, tanpa harus terus-terusan terhubung dengan dunia maya.

Bahkan untuk akun belajarku, Nisya Diari, yang isinya tentang perjalanan belajarku bahasa Jerman, aku juga ubah.
Sekarang akun itu dikunci, bukan publik lagi.
Aku hapus banyak followers sampai tinggal sekitar 200 orang, dan semuanya perempuan.
Aku ingin ruang belajar itu terasa aman, nyaman, dan bebas dari tatapan yang nggak perlu.

Aku tahu, mungkin di luar sana orang berpikir: kenapa sih ribet banget, tinggal dihapus aja kalau nggak suka?
Tapi bagiku, ini bukan soal “menghapus”, ini soal memilih kedamaian.
Soal ingin hidup dengan lebih sadar — memilih apa yang ingin aku lihat, apa yang ingin aku dengar, dan apa yang ingin aku bagi.

Sekarang aku merasa lebih damai.
Aku masih bisa terhubung dengan teman-teman di Indonesia, masih bisa update kegiatan lewat YouTube dan Instagram, tapi tanpa kehilangan fokus.
Aku ingin tetap tumbuh, tetap belajar, dan tetap menjaga hatiku dari hal-hal yang bisa membuatnya lelah.

Hidup itu bukan tentang seberapa banyak yang tahu tentang kita, tapi tentang seberapa tenang hati kita menjalani hari.

Komentar