Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang YouTube, Bahasa Jerman, dan Proses Bertumbuhku di Jerman

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah… rasanya masih nggak nyangka kalau sekarang YouTube “Nisya Diary” sudah sampai 2160 subscribers. Kalau ingat satu tahun lalu waktu pertama bikin channel ini di bulan Mei tahun 2025, subscribernya masih benar-benar cuma orang-orang terdekat aja. Aku upload video juga masih malu-malu, masih bingung, masih belajar semuanya sendiri. Dan sekarang, Masya Allah… perlahan berkembang sedikit demi sedikit. Aku selalu bilang kalau aku ini bukan guru bahasa Jerman. Aku juga masih belajar sampai sekarang. Aku masih salah grammar, masih belajar speaking, masih terus mengulang materi-materi dasar sampai B1-B2. Tapi aku senang sekali karena ternyata banyak teman-teman di Indonesia yang suka dengan cara aku menjelaskan. Alhamdulillah banget kalau video-videoku bisa jadi teman belajar online yang menyenangkan, santai, dan mudah dipahami untuk kalian. Jujur, akhir tahun 2025 sampai Maret 2026 aku sempat break dari YouTube karena capek b...

Setelah 42 Hari Off: Aku Kembali ke Instagram, Tapi dengan Hati yang Lebih Tenang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Setelah 42 hari off dari semua media sosial, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Instagram — tapi cuma itu aja.
Sekarang aku hanya pakai Instagram, YouTube, dan WhatsApp.
Bukan karena kangen scrolling atau pengen tampil lagi, tapi karena aku pengen tetap terhubung dengan teman-temanku di Indonesia, sambil tetap menjaga ketenangan hati yang sudah aku temukan selama offline.

Aku sadar, tinggal jauh dari Indonesia membuat aku butuh jembatan untuk tetap terkoneksi.
Kadang aku pengen tahu kabar teman-teman sekolahku, teman-teman lama yang dulu sering bareng, dan itu hanya bisa kulakukan lewat Instagram. Tapi bedanya sekarang, aku mengatur ulang semuanya.

Aku mulai menghapus banyak followers.
Dari yang dulu jumlahnya seribu, sekarang tinggal sekitar tujuh ratusan.
Aku sengaja bikin seimbang antara followers dan following, supaya aku tetap merasa dekat — bukan seperti orang yang punya banyak penonton tapi tidak benar-benar mengenal siapa yang melihat hidupku.
Bagiku, Instagram sekarang bukan tempat pamer atau berbagi semua hal, tapi sekadar ruang kecil untuk terhubung seperlunya.

Di WhatsApp pun aku tetap membatasi diri.
Aku jarang banget bikin story, dan kalau pun bikin, cuma hal-hal ringan seperti foto atau video keseharian.
Begitu juga di Instagram — aku nggak lagi posting hal-hal pribadi atau curhat lewat quotes panjang.
Aku nggak mau lagi menulis hal-hal yang bisa disalahartikan, atau membuat orang merasa tersindir padahal bukan maksudku.

Sekarang aku belajar untuk menyimpan hal-hal pribadi dalam hati.
Kalau aku sedih, aku cerita pada Allah.
Kalau aku bahagia, aku syukuri dalam diam.
Aku nggak mau lagi membuat hidupku jadi konsumsi publik.
Aku nggak mau lagi menjelaskan semuanya hanya karena orang lain penasaran.

Dulu aku pernah berpikir, semakin banyak yang aku bagikan, semakin orang akan mengerti aku.
Tapi ternyata, yang terjadi malah sebaliknya — semakin banyak yang tahu, semakin banyak pula penilaian yang datang.
Dan dari situ aku belajar: tidak semua hal harus diceritakan.

Untuk TikTok dan Threads, aku memutuskan tidak akan kembali.
Aku sudah hapus Threads, dan rasanya lega sekali.
Aku ingin menjaga pikiranku tetap bersih dari hal-hal yang bikin aku nggak tenang.
Aku ingin hidupku mengalir lebih sederhana, tanpa harus terus-terusan terhubung dengan dunia maya.

Bahkan untuk akun belajarku, Nisya Diari, yang isinya tentang perjalanan belajarku bahasa Jerman, aku juga ubah.
Sekarang akun itu dikunci, bukan publik lagi.
Aku hapus banyak followers sampai tinggal sekitar 200 orang, dan semuanya perempuan.
Aku ingin ruang belajar itu terasa aman, nyaman, dan bebas dari tatapan yang nggak perlu.

Aku tahu, mungkin di luar sana orang berpikir: kenapa sih ribet banget, tinggal dihapus aja kalau nggak suka?
Tapi bagiku, ini bukan soal “menghapus”, ini soal memilih kedamaian.
Soal ingin hidup dengan lebih sadar — memilih apa yang ingin aku lihat, apa yang ingin aku dengar, dan apa yang ingin aku bagi.

Sekarang aku merasa lebih damai.
Aku masih bisa terhubung dengan teman-teman di Indonesia, masih bisa update kegiatan lewat YouTube dan Instagram, tapi tanpa kehilangan fokus.
Aku ingin tetap tumbuh, tetap belajar, dan tetap menjaga hatiku dari hal-hal yang bisa membuatnya lelah.

Hidup itu bukan tentang seberapa banyak yang tahu tentang kita, tapi tentang seberapa tenang hati kita menjalani hari.

Komentar