Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kalau ada yang bertanya bagaimana kabarku di akhir Juni tahun ini, mungkin jawabannya sederhana:
Panas. Sangat panas.
Dan sejujurnya, aku tidak menyangka akan mengatakan itu saat tinggal di Jerman.
Dulu, sebelum pindah ke Jerman, aku selalu membayangkan negara ini identik dengan cuaca dingin, jaket tebal, salju, angin sejuk, dan langit yang sering mendung. Bahkan ketika pertama kali datang pada Desember 2024, bayangan itu terasa nyata. Hari-hari yang dingin, matahari yang cepat tenggelam, dan udara yang membuatku selalu ingin memakai jaket.
Tapi sekarang?
Aku sedang menulis ini di penghujung Juni, dan rasanya seperti sedang diuji kesabaran oleh musim panas.
Summer tahun ini terasa jauh lebih berat dibandingkan summer pertamaku di Jerman.
Sejak sekitar tanggal 19 Juni, suhu mulai naik dengan sangat konsisten. Awalnya masih di atas 30 derajat dan aku berpikir, "Oh, ini masih nyaman."
screenshoot per 19 Juni 2026
Ternyata aku salah.
Beberapa hari kemudian suhu naik lagi. 35 derajat. 36 derajat.
screenshoot hari ini per 23 Juni 2026
Dan menurut perkiraan cuaca, bahkan akan menyentuh angka 39 derajat sebelum memasuki Juli.
Masya Allah.
Kalau ditulis memang terlihat seperti angka biasa. Tapi ketika benar-benar mengalaminya setiap hari, rasanya berbeda.
Yang membuatku lelah bukan hanya panasnya.
Tapi karena panas itu datang terus-menerus tanpa jeda yang cukup.
Kalau misalnya satu minggu panas dua hari lalu kembali sejuk, mungkin aku masih bisa menikmatinya. Tapi ketika hampir setiap hari matahari bersinar tanpa ampun, tubuh dan pikiran mulai ikut lelah.
Aku tinggal di apartemen yang berada di lantai paling atas.
Dan ternyata itu adalah salah satu tantangan terbesar saat musim panas.
Panas dari atap terasa sekali.
Siang hari rumah menyimpan panas, lalu malam hari panas itu masih tertinggal di dalam ruangan.
Kadang aku sudah menyalakan kipas.
Kadang jendela sudah dibuka.
Tapi tetap saja terasa hangat.
Bahkan ada pagi-pagi tertentu ketika aku membuka jendela dan melihat suhu 20 derajat, namun udara yang masuk tidak terasa dingin.
Hanya hangat dan angin sedikit.
Seperti udara yang belum sempat beristirahat semalaman.
Aku jadi sering mandi sebelum tidur.
Bukan karena aktivitas yang terlalu berat, tapi karena rasanya tubuh benar-benar membutuhkan sensasi segar sebelum beristirahat.
Ada hari-hari ketika aku mandi malam hanya supaya bisa tidur lebih nyaman.
Dan lucunya, setelah beberapa saat, panasnya kembali terasa. Lalu kualitas tidurku menjadi buruk karena semalaman aku pakai kipas pun tidak membantu.
Kadang aku tertawa sendiri.
Dulu waktu masih di Indonesia, aku sering membayangkan hidup di negara empat musim itu menyenangkan. Dan memang menyenangkan.
Tapi setiap musim ternyata membawa tantangannya masing-masing.
Musim dingin mengajarkan kesabaran menghadapi gelap yang panjang.
Musim panas mengajarkan kesabaran menghadapi matahari yang terlalu bersemangat.
Tahun lalu aku masih sangat baru di Jerman.
Banyak hal yang membuatku kagum.
Semua terasa seperti pengalaman pertama.
Tapi sekarang, setelah lebih dari satu tahun tinggal di sini, aku mulai benar-benar merasakan bagaimana hidup mengikuti ritme musim.
Dan musim panas tahun ini benar-benar menguras energi.
Padahal aku termasuk orang yang suka matahari.
Aku suka hari yang terang.
Aku suka ketika pukul lima pagi langit sudah cerah.
Aku suka ketika sore hari terasa panjang.
Aku suka bisa berjalan kaki sambil menikmati langit biru.
Tapi ternyata ada titik di mana matahari yang terlalu sering hadir juga membuat rindu pada udara sejuk.
Aku mulai merindukan angin dingin yang lembut.
Merindukan hari-hari ketika cukup membuka jendela dan rumah terasa segar.
Merindukan cuaca yang membuat tidur lebih nyenyak.
Apalagi bulan Juni ini cukup padat untukku.
Ada banyak hal yang sedang aku kerjakan.
Ada jadwal-jadwal yang harus diselesaikan.
Ada hal-hal yang sedang aku pelajari.
Ada aktivitas yang membutuhkan fokus.
Dan ketika suhu tinggi datang setiap hari, energi terasa lebih cepat habis.
Kadang aku duduk di depan laptop sambil berpikir:
"Masih bulan Juni lho."
Karena summer sebenarnya masih panjang.
Juli masih menunggu.
Agustus juga masih ada.
Dan aku hanya bisa berharap semoga bulan-bulan berikutnya sedikit lebih ramah.
Aku tidak masalah kalau matahari tetap datang.
Aku tidak masalah kalau ada hari-hari panas.
Tapi mungkin jangan setiap hari.
Mungkin seminggu sekali atau dua kali saja.
Sisanya biarkan angin sejuk kembali berkunjung.
Karena jujur saja, aku mulai rindu.
Yang menarik adalah, tinggal di Jerman membuatku semakin belajar menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.
Aku tidak bisa meminta matahari berhenti bersinar.
Aku tidak bisa meminta cuaca berubah sesuai keinginanku.
Aku hanya bisa menyesuaikan diri.
Minum lebih banyak air.
Membuka jendela pada waktu yang tepat.
Menutup tirai ketika matahari terlalu terik.
Berjalan pagi sebelum udara terlalu panas.
Dan berusaha tetap bersyukur.
Karena di balik keluhan-keluhan kecil tentang cuaca ini, sebenarnya ada banyak nikmat yang masih Allah berikan.
Aku masih sehat.
Aku masih bisa beraktivitas.
Aku masih bisa menikmati hari-hari bersama suamiku.
Aku masih bisa belajar.
Aku masih bisa menulis.
Aku masih bisa menghubungi keluarga di Indonesia.
Dan aku masih bisa melihat langit biru yang indah setiap hari.
Kadang aku berpikir, mungkin suatu hari nanti aku akan merindukan masa-masa ini.
Merindukan summer tahun kedua di Jerman.
Merindukan keluhan-keluhan kecil tentang suhu 36 derajat.
Merindukan kipas yang menyala sepanjang malam.
Merindukan mandi sebelum tidur hanya untuk mencari rasa sejuk.
Karena hidup memang lucu.
Saat berada di dalam suatu musim, kita sering berharap musim itu cepat berlalu.
Tapi beberapa tahun kemudian, justru musim itulah yang menjadi kenangan.
Hari ini aku menulis dengan kondisi sedikit lelah menghadapi panas.
Tapi aku juga menulis dengan hati yang bersyukur.
Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengalami perjalanan hidup seperti ini.
Menjadi perantau.
Belajar hidup jauh dari keluarga.
Belajar beradaptasi dengan budaya baru.
Belajar memahami empat musim secara langsung.
Belajar menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki ujian dan keindahannya masing-masing.
Jadi untuk Summer 2026 ini, aku hanya ingin berkata:
Terima kasih sudah mengajarkanku kesabaran.
Walaupun jujur saja, kalau boleh memilih, aku tetap lebih suka suhu 20 sampai 24 derajat daripada 39 derajat.
Bismillah.
Semoga sisa musim panas tahun ini berjalan dengan baik.
Semoga bulan Juli sedikit lebih bersahabat.
Semoga Agustus membawa udara yang lebih sejuk.
Dan semoga Allah selalu menjaga kita semua, di mana pun berada, dalam cuaca apa pun, dalam musim apa pun.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa panas atau seberapa dingin cuaca hari ini.
Tetapi seberapa besar rasa syukur yang masih mampu kita jaga di dalam hati.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar