Sudah Saatnya Aku Belajar Menemani Diriku Sendiri
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang cukup personal. Bukan tentang Jerman, bukan tentang bahasa Jerman, bukan tentang kehidupan pernikahan, dan bukan juga tentang kesibukan sehari-hari.
Hari ini aku hanya ingin menulis tentang perasaan yang akhir-akhir ini sering datang diam-diam.
Perasaan seperti kehilangan.
Bukan kehilangan seseorang karena meninggal dunia.
Bukan juga kehilangan sesuatu yang benar-benar pergi.
Tapi kehilangan yang bentuknya lebih samar.
Kehilangan ritme.
Kehilangan kedekatan.
Kehilangan rasa "punya tempat pulang" dalam beberapa hubungan yang dulu terasa begitu dekat.
Mungkin ini bagian dari proses bertambah dewasa.
Mungkin ini bagian dari hidup sebagai perantau.
Atau mungkin memang sudah waktunya aku belajar berdiri lebih mandiri secara emosional.
Sejak tinggal di Jerman, aku sering merasa seperti hidup dalam dunia yang berbeda dengan kehidupan yang dulu pernah aku miliki di Indonesia.
Waktu terus berjalan.
Semua orang bertumbuh.
Semua orang punya kesibukan masing-masing.
Semua orang punya prioritas baru.
Dan aku juga tidak bisa memaksa siapapun untuk tetap berada di titik yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Aku mengerti itu.
Aku benar-benar mengerti.
Tapi mengerti tidak selalu membuat hati langsung baik-baik saja.
Kadang ada rasa sedih yang tetap muncul.
Ada hari-hari ketika aku sangat ingin bercerita.
Tentang hal kecil.
Tentang sesuatu yang membuatku senang.
Tentang sesuatu yang membuatku tertawa.
Tentang pencapaian kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain.
Lalu aku menyadari bahwa tidak semua orang memiliki ruang dan energi untuk mendengarkan seperti dulu.
Dan itu tidak salah.
Sama sekali tidak salah.
Karena setiap orang sedang berjuang dengan kehidupannya sendiri.
Masing-masing punya masalah.
Punya tanggung jawab.
Punya keluarga.
Punya kelelahan yang tidak selalu terlihat.
Aku paham.
Aku menghargai itu.
Tapi di sisi lain, aku juga mulai memahami diriku sendiri.
Aku mulai menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu berharap.
Berharap ada seseorang yang selalu punya waktu.
Berharap ada seseorang yang selalu antusias mendengarkan cerita-ceritaku.
Berharap ada seseorang yang memahami isi kepalaku tanpa perlu banyak penjelasan.
Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Dan tidak apa-apa.
Karena manusia memang berubah.
Hubungan juga berubah.
Kedekatan pun bisa berubah bentuk.
Yang dulu terasa dekat sekali, hari ini mungkin hanya tinggal saling mendoakan dari jauh.
Yang dulu setiap hari berbagi cerita, hari ini mungkin hanya sesekali bertukar kabar.
Dan itu bukan berarti ada yang jahat.
Bukan berarti ada yang salah.
Mungkin hanya karena kehidupan membawa kami ke jalan yang berbeda.
Aku sempat sedih.
Sangat sedih.
Sampai ada masa ketika aku sering menangis sendiri.
Bukan karena ada yang menyakitiku.
Bukan karena ada pertengkaran.
Bukan karena ada konflik besar.
Tapi karena aku merasa sendirian.
Perasaan itu datang pelan-pelan.
Dan semakin terasa ketika tinggal jauh dari Indonesia.
Ketika keluarga ada ribuan kilometer jauhnya.
Ketika sahabat-sahabat sudah memiliki kehidupan masing-masing.
Ketika perbedaan waktu membuat komunikasi tidak selalu mudah.
Ketika aku sadar bahwa ternyata aku tidak lagi menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang.
Dan lagi-lagi, itu tidak salah.
Hanya saja hati ini sedang belajar menerima kenyataan bahwa setiap fase hidup memang memiliki orang-orangnya sendiri.
Mungkin ada orang yang hadir untuk menemani masa sekolah.
Ada yang hadir untuk menemani masa kuliah.
Ada yang hadir untuk menemani masa bekerja.
Ada yang hadir untuk menemani masa perantauan.
Dan tidak semuanya akan berjalan bersama sampai akhir.
Dulu aku sering takut kehilangan hubungan.
Sekarang aku lebih takut kehilangan diriku sendiri.
Aku tidak ingin terus-menerus menggantungkan kebahagiaan pada respons orang lain.
Aku tidak ingin menunggu notifikasi untuk merasa berarti.
Aku tidak ingin mengukur nilai diriku dari seberapa cepat seseorang membalas pesan.
Aku tidak ingin hidupku bergantung pada perhatian manusia.
Karena itu sangat melelahkan.
Akhirnya aku mulai belajar sesuatu.
Bahwa mungkin Allah sedang mengajariku untuk kembali kepada diriku sendiri.
Belajar menikmati kesendirian.
Belajar menghargai diriku.
Belajar menjadi teman terbaik untuk diriku sendiri.
Belajar menerima bahwa tidak semua cerita harus diceritakan.
Tidak semua kesedihan harus dipahami orang lain.
Tidak semua luka harus mendapatkan validasi.
Ada beberapa hal yang cukup diketahui oleh Allah saja.
Dan itu sudah cukup.
Aku masih punya suamiku.
Alhamdulillah.
Aku bersyukur sekali atas kehadirannya.
Dia adalah teman terbaikku saat ini.
Tempat aku bercerita.
Tempat aku pulang.
Tempat aku merasa aman.
Tapi tetap saja ada beberapa bagian dalam diri manusia yang tidak bisa dijelaskan kepada siapapun.
Ada kesedihan yang terlalu rumit untuk diterjemahkan menjadi kata-kata.
Ada perasaan yang hanya bisa dipahami oleh diri sendiri dan Allah.
Dan mungkin itu normal.
Mungkin semua orang dewasa pernah merasakan hal yang sama.
Hari ini aku tidak sedang marah kepada siapapun.
Tidak sedang kecewa kepada siapapun.
Tidak sedang menyalahkan siapapun.
Aku hanya sedang menerima.
Menerima bahwa hidup berubah.
Menerima bahwa hubungan berubah.
Menerima bahwa manusia berubah.
Dan yang paling penting, menerima bahwa aku juga berubah.
Mungkin inilah waktunya untuk berhenti mencari tempat di hati semua orang.
Dan mulai membangun rumah yang nyaman di dalam diriku sendiri.
Rumah yang tidak bergantung pada perhatian manusia.
Rumah yang tidak runtuh karena balasan pesan yang terlambat.
Rumah yang tidak kosong meskipun sedang sendirian.
Karena selama Allah masih ada, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Mungkin aku sedang kehilangan banyak hal.
Mungkin aku sedang merindukan banyak hal.
Mungkin aku sedang berduka atas versi kehidupan yang sudah tidak ada lagi.
Tapi aku percaya.
Allah tidak pernah mengambil sesuatu tanpa memberikan pelajaran yang berharga.
Jadi untuk diriku sendiri:
Tidak apa-apa jika hari ini kamu merasa sendirian.
Tidak apa-apa jika hari ini kamu menangis.
Tidak apa-apa jika hari ini kamu merindukan masa lalu.
Tidak apa-apa jika beberapa hubungan berubah.
Tetaplah menjadi orang yang baik.
Tetaplah mendoakan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupmu.
Tetaplah mencintai tanpa harus memiliki.
Dan tetaplah berjalan.
Karena mungkin Allah sedang mengajarkanmu satu hal yang paling penting:
Bahwa ketenangan sejati tidak datang dari manusia.
Tetapi dari hati yang belajar cukup dengan Allah.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 🌿
Komentar
Posting Komentar