Langsung ke konten utama

Unggulan

Sudah Saatnya Aku Belajar Menemani Diriku Sendiri

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang cukup personal. Bukan tentang Jerman, bukan tentang bahasa Jerman, bukan tentang kehidupan pernikahan, dan bukan juga tentang kesibukan sehari-hari. Hari ini aku hanya ingin menulis tentang perasaan yang akhir-akhir ini sering datang diam-diam. Perasaan seperti kehilangan. Bukan kehilangan seseorang karena meninggal dunia. Bukan juga kehilangan sesuatu yang benar-benar pergi. Tapi kehilangan yang bentuknya lebih samar. Kehilangan ritme. Kehilangan kedekatan. Kehilangan rasa "punya tempat pulang" dalam beberapa hubungan yang dulu terasa begitu dekat. Mungkin ini bagian dari proses bertambah dewasa. Mungkin ini bagian dari hidup sebagai perantau. Atau mungkin memang sudah waktunya aku belajar berdiri lebih mandiri secara emosional. Sejak tinggal di Jerman, aku sering merasa seperti hidup dalam dunia yang berbeda dengan kehidupan yang dulu pernah aku miliki di Indonesia. Waktu terus berjalan. Sem...

Harga yang harus dibayar tinggal di Luar Negeri

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Akhir-akhir ini aku lagi sering mikir… ternyata tinggal di luar negeri itu memang tidak sesederhana yang dilihat orang-orang.

Mungkin dari luar kelihatannya enak. Bisa tinggal di negara lain, lihat tempat baru, jalan-jalan, hidup tenang. Dan memang, aku bersyukur sekali atas hidup yang Allah kasih sekarang. Aku bersyukur tinggal di Jerman bersama suamiku. Aku bersyukur masih diberi kesehatan, keamanan, dan kehidupan yang baik.

Tapi di balik semua itu, ada banyak “harga” yang ternyata harus dibayar pelan-pelan.

Harga karena jauh dari keluarga.
Jauh dari orang tua.
Jauh dari sahabat.
Jauh dari suasana yang dulu terasa biasa saja, tapi sekarang justru paling dirindukan.

Kadang aku rindu hal-hal kecil di Indonesia. Rindu bisa makan makanan Indonesia dengan mudah. Rindu suasana masjid waktu Idul Fitri dan Idul Adha. Rindu mendengar ramai orang Indonesia di sekitar. Rindu ngobrol tanpa harus berpikir bahasa lain.

Di sini aku cuma berdua sama suami. Dan suamiku juga sama-sama perantau dari Mesir yang tinggal di Jerman. Jadi kami sama-sama belajar bertahan hidup jauh dari rumah.

Ada hari di mana semuanya terasa ringan.
Ada juga hari di mana rasanya berat sekali.

Kadang malas keluar.
Kadang capek sendiri.
Kadang cuma pengen GoFood makanan Indonesia yang hangat dan familiar, tapi di sini tidak semudah itu. Cari makanan halal saja kadang pilihannya terbatas. Dan soal halal juga aku cukup hati-hati, jadi memang tidak semua tempat bisa aku makan begitu saja.

Dan mungkin yang paling terasa adalah… rasa sepi.

Sudah satu setengah tahun tinggal di Jerman, tapi sampai sekarang aku belum benar-benar punya teman dekat di sini. Sebenarnya ada beberapa kenalan, tapi aku merasa mungkin kami kurang cocok. Jadi aku memilih menjaga jarak saja daripada memaksakan hubungan yang akhirnya membuat hati tidak nyaman.

Kadang aku berpikir, mungkin Allah memang sedang mengajarkanku hidup lebih tenang tanpa terlalu banyak orang di sekitar.

Karena ada sisi baiknya juga hidup tanpa circle. Tidak banyak drama, tidak banyak omongan, tidak banyak energi yang terkuras. Hidup jadi lebih tenang dan private.

Tapi ya… tetap saja kadang terasa sepi.

Dan mungkin tidak apa-apa.

Mungkin ini memang bagian dari proses bertumbuh menjadi dewasa. Belajar menerima bahwa hidup tidak selalu harus ramai untuk bisa bahagia.

Sekarang aku cuma ingin menjalani hidup pelan-pelan saja. Menikmati hal-hal kecil bersama suamiku. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dari jauh. Menjaga hati supaya tetap kuat walaupun jauh dari rumah.

Bismillah.
Semoga Allah selalu menjaga kami para perantau.
Semoga Allah menjaga orang tua dan keluarga kami di Indonesia.
Dan semoga rasa sepi ini pelan-pelan berubah menjadi rasa syukur yang lebih besar lagi.

Komentar