Langsung ke konten utama

Unggulan

Sudah Saatnya Aku Belajar Menemani Diriku Sendiri

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang cukup personal. Bukan tentang Jerman, bukan tentang bahasa Jerman, bukan tentang kehidupan pernikahan, dan bukan juga tentang kesibukan sehari-hari. Hari ini aku hanya ingin menulis tentang perasaan yang akhir-akhir ini sering datang diam-diam. Perasaan seperti kehilangan. Bukan kehilangan seseorang karena meninggal dunia. Bukan juga kehilangan sesuatu yang benar-benar pergi. Tapi kehilangan yang bentuknya lebih samar. Kehilangan ritme. Kehilangan kedekatan. Kehilangan rasa "punya tempat pulang" dalam beberapa hubungan yang dulu terasa begitu dekat. Mungkin ini bagian dari proses bertambah dewasa. Mungkin ini bagian dari hidup sebagai perantau. Atau mungkin memang sudah waktunya aku belajar berdiri lebih mandiri secara emosional. Sejak tinggal di Jerman, aku sering merasa seperti hidup dalam dunia yang berbeda dengan kehidupan yang dulu pernah aku miliki di Indonesia. Waktu terus berjalan. Sem...

Kenapa Aku Sering Offline dari Instagram?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Akhir-akhir ini aku sering menghilang dari Instagram.

Kadang online sebentar, lalu offline lagi.
Kadang aktif beberapa hari, lalu menghilang berminggu-minggu.

Dan ternyata ada beberapa teman yang bertanya, "Kamu baik-baik saja kan?"

Alhamdulillah, aku baik-baik saja.

Aku sehat.
Aku bahagia.
Aku masih menjalani hari-hariku seperti biasa.

Hanya saja, sekarang aku memang lebih memilih hidup yang tenang.

Mungkin kalau dulu aku senang membagikan banyak hal, sekarang aku justru lebih nyaman menyimpan banyak hal untuk diriku sendiri.

Bukan karena ada masalah.

Bukan karena sedang marah kepada siapa pun.

Bukan juga karena ingin menjauh dari orang-orang.

Aku hanya sedang belajar menjaga energiku.

Tinggal di luar negeri ternyata mengajarkanku banyak hal.

Salah satunya adalah menyadari bahwa energi kita terbatas.

Dan semakin bertambah usia, semakin aku sadar bahwa tidak semua hal perlu aku konsumsi setiap hari.

Terutama berita.

Jujur saja, salah satu alasan kenapa aku sering offline adalah karena aku merasa lelah dengan terlalu banyak informasi.

Apalagi berita-berita yang datang silih berganti dari Indonesia.

Kadang ada berita yang membuat sedih.

Kadang ada berita yang membuat kesal.

Kadang ada perdebatan yang tidak ada ujungnya.

Kadang ada kontroversi yang membuat hati ikut lelah.

Dan karena aku tinggal jauh dari Indonesia, sering kali aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membaca dan memikirkannya.

Akhirnya aku sadar bahwa terlalu banyak mengonsumsi hal-hal seperti itu justru membuat pikiranku penuh dan energiku habis.

Padahal di kehidupan nyata, aku juga punya banyak hal yang harus kuurus.

Aku harus mengurus rumah tangga.

Aku harus menjaga kesehatanku.

Aku harus belajar bahasa Jerman.

Aku harus menjalani kehidupan sebagai perantau.

Aku juga harus menjaga diriku sendiri.

Jadi sekarang aku mulai membatasi banyak hal.

Aku tidak lagi merasa harus selalu tahu semua berita.

Aku tidak lagi merasa harus mengikuti semua pembahasan yang sedang ramai.

Aku tidak lagi merasa harus selalu hadir di media sosial.

Karena ternyata dunia tetap berjalan meskipun aku tidak melihat semuanya.

Selain itu, aku juga mulai mengurangi kebiasaan membagikan kehidupan pribadiku.

Bukan karena hidupku sempurna.

Justru karena aku sadar bahwa setiap orang sedang sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Orang lain punya masalah.
Orang lain punya kesibukan.
Orang lain punya perjuangan yang mungkin tidak kita lihat.

Dan aku pun demikian.

Jadi sekarang aku lebih memilih menjalani hidupku saja.

Menyimpan banyak hal untuk diriku sendiri.

Menikmati momen-momen kecil tanpa merasa harus mendokumentasikan semuanya.

Kadang aku pergi jalan.

Kadang aku memasak.

Kadang aku belajar.

Kadang aku hanya duduk diam sambil minum teh.

Dan semua itu tidak harus selalu menjadi story.

Aku juga punya kebiasaan yang mungkin sedikit merepotkan diriku sendiri.

Aku tipe orang yang tidak nyaman melihat pesan menumpuk.

Kalau ada pesan masuk, aku ingin membalas.

Kalau ada notifikasi, aku ingin merespons.

Padahal sering kali orang lain membalas pesanku dua hari kemudian, tiga hari kemudian, atau bahkan lebih lama.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi aku menyadari bahwa pola seperti ini membuat energiku cepat habis.

Karena pikiranku terus merasa harus merespons sesuatu.

Harus membuka aplikasi.

Harus mengecek notifikasi.

Harus hadir.

Dan aku mulai lelah.

Jadi sekarang aku sedang belajar bahwa tidak semua pesan harus langsung dibalas saat itu juga.

Tidak semua notifikasi harus langsung dibuka.

Tidak semua hal membutuhkan respons secepat mungkin.

Aku sedang belajar menjaga ritme hidupku sendiri.

Apalagi sekarang sedang musim panas di Jerman.

Dan jujur saja, summer tahun ini cukup menguras energi.

Panasnya luar biasa.

Rumah terasa hangat hampir setiap hari.

Tidur kadang tidak senyaman biasanya.

Aktivitas terasa lebih melelahkan.

Dan di saat yang sama, aku juga memiliki banyak jadwal dan kegiatan yang harus dijalani.

Jadi saat ada waktu luang, yang paling aku butuhkan sebenarnya bukan scrolling media sosial.

Aku hanya ingin beristirahat.

Aku hanya ingin diam.

Aku hanya ingin menikmati hari tanpa terlalu banyak suara dari luar.

Kadang aku berpikir, mungkin karena itulah aku merasa semakin sedikit memiliki teman.

Bukan karena tidak ada orang baik di sekitarku.

Bukan karena aku membenci orang lain.

Tapi karena kehidupanku sekarang memang sangat sederhana.

Hari-hariku lebih banyak di rumah.

Lebih banyak bersama suami.

Lebih banyak bersama diriku sendiri.

Dan semakin bertambah usia, aku mulai menerima bahwa mungkin memang ada fase kehidupan yang seperti ini.

Fase yang lebih sunyi.

Fase yang lebih tenang.

Fase yang tidak seramai dulu.

Sekarang usiaku sudah 27 tahun.

Dan entah kenapa, banyak hal yang dulu terasa penting, sekarang tidak lagi terasa sepenting itu.

Aku tidak lagi ingin dikenal banyak orang.

Aku tidak lagi ingin selalu terlihat aktif.

Aku tidak lagi ingin selalu hadir di mana-mana.

Aku hanya ingin hidup dengan tenang.

Menjalankan peranku sebagai istri dengan baik.

Belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Menjaga hubunganku dengan Allah.

Menjaga shalatku.

Menjaga Al-Qur'anku.

Menjaga rumah tanggaku.

Dan menjaga hati agar tetap baik.

Kalau suatu hari kalian melihat aku menghilang lagi dari Instagram, jangan khawatir.

Kemungkinan besar aku hanya sedang menikmati hidupku yang sederhana.

Sedang belajar.

Sedang membaca.

Sedang mendengarkan podcast.

Sedang mengurus rumah.

Sedang berbicara dengan suamiku.

Atau mungkin hanya sedang duduk diam menikmati ketenangan.

Karena sekarang aku percaya bahwa tidak semua momen harus dibagikan.

Dan tidak semua kebahagiaan harus diketahui orang lain.

Kadang kebahagiaan yang paling tulus justru lahir dari kehidupan yang sederhana, tenang, dan hanya diketahui oleh Allah.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar