Sedih yang Tidak Menetes Jadi Air Mata
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Ada hari-hari tertentu yang sulit dijelaskan.
Hari di mana aku merasa sangat sedih… tapi tidak bisa menangis.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi memang air matanya tidak keluar.
Sedih yang Tidak Jelas Asalnya
Aku pernah duduk diam dan bertanya ke diri sendiri,
“Kenapa aku sedih?”
Tapi aku tidak menemukan jawaban yang pasti.
Mungkin karena banyak hal.
Mungkin karena perasaan yang menumpuk.
Mungkin karena lelah yang tidak terlihat.
Yang aku tahu… orang-orang di sekitarku tidak menyakitiku.
Suamiku baik.
Keluargaku baik.
Sahabat-sahabatku juga baik.
Jadi aku sadar…
ini bukan tentang mereka.
Ini tentang sesuatu yang ada di dalam diriku sendiri.
Perasaan yang Tidak Bisa Diungkapkan
Ada bagian dari hati yang rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana jika ingin bercerita.
Dan mungkin… aku juga takut.
Takut kalau aku mengungkapkan semuanya,
aku justru akan terluka lebih dalam.
Atau tanpa sadar menyakiti perasaan orang lain.
Akhirnya aku memilih diam.
Bukan karena tidak percaya,
tapi karena tidak semua rasa bisa diterjemahkan.
Hidup Jauh dari Rumah
Sekarang aku menjalani hidup jauh dari Indonesia.
Tidak ada keluarga di dekatku.
Tidak ada sahabat yang bisa aku temui kapan saja.
Tidak ada orang yang benar-benar “satu bahasa” denganku dalam semua hal.
Aku hanya punya suamiku.
Dan aku bersyukur…
karena hidup bersamanya itu menyenangkan.
Dia adalah tempat pulangku sekarang.
Tapi tetap saja…
ada sisi kosong yang tidak bisa tergantikan.
Sisi yang dulu diisi oleh keluarga.
Oleh teman-teman.
Oleh suasana yang tidak bisa aku ulang lagi di sini.
Ekspektasi dan Realita
Kadang aku juga punya ekspektasi yang tinggi untuk diriku sendiri.
Ingin produktif.
Ingin berkembang.
Ingin menjadi versi terbaik dari diriku.
Tapi kenyataannya…
aku masih sering berleha-leha.
Masih sering kehilangan arah.
Masih sering merasa tidak cukup.
Dan tanpa sadar…
aku jadi menyalahkan diri sendiri.
Antara Cerita dan Diam
Aku tetap bercerita pada suamiku.
Aku tetap terbuka.
Walaupun kadang harus dengan bahasa Inggris.
Walaupun tidak semua bisa tersampaikan dengan sempurna.
Tapi tetap ada bagian dari kesedihan ini…
yang hanya aku simpan sendiri.
Bagian yang tidak pernah benar-benar keluar.
Bagian yang hanya aku dan Allah yang tahu.
Mungkin Ini Fase
Mungkin ini adalah fase.
Fase di mana aku mulai menyadari bahwa hidup dewasa itu tidak mudah.
Apalagi hidup di perantauan.
Apalagi tanpa banyak orang di sekitar.
Ada rasa sepi.
Ada rasa bingung.
Ada rasa kehilangan… yang tidak terlihat.
Tapi di tengah semua itu, aku masih punya satu hal yang sangat berharga.
Suamiku.
Saat ini, dia bukan hanya pasangan hidupku,
tapi juga sahabat terdekatku.
Penutup
Aku hanya ingin berdoa…
Semoga Allah selalu menjagaku,
melindungiku,
dan memaafkan segala kekuranganku.
Karena aku tahu…
aku hanyalah manusia yang tidak sempurna.
Dan untuk suamiku…
semoga Allah selalu menjaganya, menyehatkannya, dan melindunginya di mana pun dia berada.
Karena aku menyayanginya.
Walaupun hari ini aku sedih…
dan bahkan tidak bisa menangis,
aku percaya…
Allah tetap ada.
Dan itu cukup.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar