Langsung ke konten utama

Unggulan

Sedih yang Tidak Menetes Jadi Air Mata

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Ada hari-hari tertentu yang sulit dijelaskan. Hari di mana aku merasa sangat sedih… tapi tidak bisa menangis. Bukan karena tidak ingin. Tapi memang air matanya tidak keluar. Sedih yang Tidak Jelas Asalnya Aku pernah duduk diam dan bertanya ke diri sendiri, “Kenapa aku sedih?” Tapi aku tidak menemukan jawaban yang pasti. Mungkin karena banyak hal. Mungkin karena perasaan yang menumpuk. Mungkin karena lelah yang tidak terlihat. Yang aku tahu… orang-orang di sekitarku tidak menyakitiku. Suamiku baik. Keluargaku baik. Sahabat-sahabatku juga baik. Jadi aku sadar… ini bukan tentang mereka. Ini tentang sesuatu yang ada di dalam diriku sendiri. Perasaan yang Tidak Bisa Diungkapkan Ada bagian dari hati yang rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana jika ingin bercerita. Dan mungkin… aku juga takut. Takut kalau aku mengungkapkan semuanya, aku justru akan terluka leb...

Nisya Diary Blog- Melewati Panas Gelombang Kedua di Jerman & Dirgahayu ke-80 Indonesia

Assalamualaikum teman-teman ๐Ÿ’•

Alhamdulillah hari ini sudah tanggal 17 Agustus 2025, tepat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80 ๐ŸŽ‰๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ. Rasanya selalu hangat di hati walaupun aku lagi jauh dari tanah air, tapi tetap ikut merasakan semangat kemerdekaan dari sini.

Beberapa hari lalu, Jerman sempat kena gelombang panas kedua di musim panas ini. Suhunya sampai tembus 35°C — dan serius, panas banget! ๐Ÿฅต Apalagi buat aku yang lebih terbiasa dengan udara tropis di Indonesia, tapi di sini kalau panas itu beda, kering dan menusuk banget rasanya. Alhamdulillah meskipun cuma 3 hari, cukup bikin badan gampang lelah. Tapi sekarang aku senang banget, karena per 17 Agustus ini suhunya sudah mulai adem lagi, maksimal 25°C. Lumayan lebih sejuk, bikin hati juga terasa lebih tenang.

Sebenarnya, di Frankfurt ada acara spesial dari KJRI Frankfurt untuk perayaan kemerdekaan. Ada upacara bendera dan juga bazaar makanan khas Indonesia. Kebayang sih pasti seru banget, bisa ketemu banyak orang Indonesia, ngobrol pakai bahasa sendiri, dan tentunya makan makanan nusantara. Tapi karena jarak dari kota tempat aku tinggal ke Frankfurt itu sekitar 3 jam perjalanan, jadi aku belum bisa hadir. Kalau naik ICE (kereta cepat Jerman) sih memang bisa lebih cepat, tapi tetap aja harus siapin banyak energi. Aku jadi ingat pertama kali aku ke Frankfurt, waktu baru datang ke Jerman dari Jakarta lewat Beijing, wah rasanya Frankfurt itu besar banget! Suamiku juga sering bilang kalau Frankfurt itu kota besar yang ramai, dan karena besar ya otomatis juga harus ekstra hati-hati di sana.

Walaupun nggak bisa hadir langsung, aku tetap ikut merayakan dengan caraku sendiri di rumah. Aku sempat pasang bikin video tentang Indonesia di Instastory dan mengucapkan Dirgahayu Indonesia, menyanyikan lagu 17 Agutus dan menyaksikan upacara pengibaran bendera di Youtube, lalu berdoa supaya Indonesia semakin maju, damai, dan diberkahi Allah. Rindu banget suasana 17 Agustus di Indonesia, dengan lomba-lomba meriah, tetangga kumpul, anak-anak ketawa. Tapi ya itulah salah satu rasa yang selalu dibawa sama diaspora—rindu rumah.

✨ Nah, kalau mundur sedikit ke bulan lalu tepatnya 13 Juli 2025, sebenarnya ada acara seru juga di Nรผrnberg, yaitu acara IKF (Interkulturelles Fest). Di sana ada bazaar makanan Indonesia, budaya, dan kumpul orang-orang dari berbagai negara. Aku sempat kepikiran banget buat datang karena penasaran, pasti seru banget bisa ketemu komunitas Indonesia, nyobain makanan khas yang udah lama nggak aku makan.

Tapi ternyata, tanggal itu pas banget bertepatan dengan ulang tahun suamiku ๐Ÿฅฐ. Jadi akhirnya aku pilih untuk rayain di rumah aja. Aku bikin cupcake dengan cream, terus kasih hadiah tas Adidas yang aku beli sendiri. Dan yang bikin aku terharu, tas itu aku beli langsung di toko dengan bahasa Jerman! Hehee. Waktu itu aku ke toko Deichmann, awalnya sempat malu-malu dan deg-degan, tapi akhirnya bisa juga transaksi dan ngobrol sedikit pakai bahasa Jerman. Rasanya kayak pencapaian kecil tapi besar banget buatku. Alhamdulillah aku bisa survive walau kadang grogi, tapi setiap percakapan kecil itu bikin aku lebih percaya diri. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿค

Setelah beli hadiah, aku juga mampir ke TEDi buat beli lilin, lalu sekalian belanja sedikit ke LIDL. Pokoknya hari itu lumayan sibuk tapi bikin aku bahagia, karena bisa bikin ulang tahun suami lebih hangat dengan usahaku sendiri.

Alhamdulillah, itulah sedikit cerita dari aku tentang bagaimana rasanya melewati panas gelombang kedua di Jerman, merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dari jauh, dan juga flashback manis saat ulang tahun suamiku bulan lalu. Hidup di perantauan memang penuh warna, kadang ada rasa rindu, kadang ada tantangan, tapi selalu ada hal kecil yang bisa disyukuri setiap harinya.

Semoga Allah selalu kasih kesehatan, keberkahan, dan kemudahan dalam setiap langkah kita. Dan semoga juga aku bisa terus konsisten berbagi cerita sederhana di sini, karena lewat tulisan inilah aku bisa menyimpan kenangan indah dan mungkin bermanfaat juga buat teman-teman yang baca.

Terima kasih sudah mampir ke Nisya Diary Blog, sampai jumpa di cerita berikutnya ya ๐Ÿ’•
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ๐ŸŒธ

Komentar