Unggulan

Berhenti Berekspektasi, Belajar Menerima Hidup Apa Adanya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang mungkin agak berbeda. Lebih jujur, lebih dalam, dan mungkin lebih sunyi.

Akhir-akhir ini aku belajar satu hal yang cukup berat untuk diterima:
berhenti berekspektasi bahwa hidup akan selalu terasa menyenangkan.

Hidup di Jerman: Sepi yang Nyata

Sudah lebih dari satu tahun aku tinggal di Jerman. Dan semakin ke sini, aku semakin sadar… aku memang tidak punya circle di sini.

Tidak punya teman dekat.
Tidak punya tempat bercerita secara langsung.
Tidak punya kehidupan sosial seperti dulu di Indonesia.

Temanku… hanya suamiku.

Dan selebihnya… aku punya Allah.

Awalnya terasa aneh. Bahkan kadang terasa sangat sepi. Tapi justru dari situ aku mulai melihat banyak hal dari kejauhan. Aku jadi lebih peka. Lebih bisa memperhatikan tanpa harus terlibat terlalu dalam.

Belajar Menyukai Hidup yang Private

Sekarang aku lebih memilih hidup yang sangat private.

Bahkan Instagram pribadiku yang hanya sekitar 400 followers itu pun sering aku offline-kan. Bukan karena apa-apa… aku hanya tidak ingin terlalu banyak melihat kehidupan orang lain.

Facebook juga sudah aku nonaktifkan lagi.
Kemarin sempat buka, itu pun hanya untuk beli produk Indonesia.

Aku mulai sadar… terlalu banyak melihat hidup orang lain kadang membuat hati jadi tidak tenang. Bukan karena mereka salah, tapi karena hati kita yang harus dijaga.

Aku tidak mau sampai:

merasa kurang,

merasa tertinggal,

atau tanpa sadar membandingkan hidupku dengan orang lain.


Jadi aku memilih untuk mundur pelan-pelan.


Rindu yang Tidak Bisa Selalu Dipenuhi

Jujur, kadang aku melihat postingan teman-temanku di Indonesia…
Aku senang melihat mereka bahagia.

Tapi di sisi lain, ada rasa yang sulit dijelaskan.

Rindu.
Ingin kembali ke suasana itu.
Ingin makan makanan Indonesia tanpa harus repot masak sendiri.
Ingin ngobrol pakai bahasa Indonesia tanpa mikir.

Di sini, hal-hal sederhana itu terasa lebih sulit.

Tapi aku sadar… ini adalah pilihan hidupku.
Dan aku percaya… Allah menempatkan aku di sini karena aku mampu.

Walaupun kadang capek.
Walaupun kadang sedih.
Walaupun kadang merasa sendirian.

Nikmat yang Sebenarnya

Semakin ke sini, aku justru menyadari…
nikmat yang paling besar itu bukan tentang tempat tinggal, bukan tentang lingkungan, bukan tentang gaya hidup.

Tapi:

nikmat sehat,

nikmat rezeki yang berkah,

dan nikmat hati yang masih bisa bersyukur.


Aku belajar untuk tidak lagi mengejar “hidup yang terlihat menyenangkan”.
Karena kenyataannya… setiap orang punya ujiannya masing-masing, hanya saja tidak semuanya terlihat.


Menjaga Hati, Menjaga Iman

Sekarang, aku merasa koneksiku benar-benar sederhana.

Aku punya:

Allah

Suamiku

Keluargaku (meskipun dari jauh, lewat WhatsApp)


Tidak banyak, tapi cukup.

Perbedaan waktu dengan Indonesia kadang membuat komunikasi tidak selalu mudah. Mereka punya kesibukan, aku juga punya rutinitas sendiri. Jadi aku belajar untuk memahami itu.

Aku juga berusaha menjaga hubunganku dengan Al-Qur’an.
Karena di saat seperti ini… hanya itu yang benar-benar menenangkan.


Tidak Mudah, Tapi InsyaAllah Bisa

Kalau dilihat dari luar, mungkin hidupku terlihat baik-baik saja.
Tapi di dalamnya, ada banyak hal yang harus aku jalani sendiri.

Dan itu tidak selalu mudah.

Sudah lebih dari satu tahun aku meninggalkan kehidupan di Indonesia.
Dan jujur… itu bukan hal yang ringan.

Di sini pun, hidupku bukan tanpa ujian.
Tapi aku belajar untuk menerima semuanya sebagai bagian dari takdir.

Aku tidak ingin lagi memaksakan hidup harus selalu terasa “indah”.
Aku hanya ingin hidup yang cukup… dan hati yang tenang.


Penutup

Hari ini aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa tidak apa-apa merasa sepi.
Tidak apa-apa merasa lelah.
Tidak apa-apa kalau hidup tidak selalu sesuai harapan.

Selama kita masih punya Allah… kita tidak benar-benar sendirian.

Bismillah ya Allah…
semoga Engkau selalu menguatkan langkahku, menjaga hatiku, dan memudahkan setiap proses yang aku jalani.

Dan semoga aku bisa melalui semua ini… dengan baik.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar